Tatanan Dunia Baru diantara bangkai blok timur dan blok barat

Tidak dapat dipungkiri bahwa ‘buku sejarah’ kita, yang memang hanya berguna sebagai monumen historis, adalah kreasi dari ideologi orde-baru atau mungkin lebih tepat ‘sebuah prekondisi bagi tatanan dunia baru.’ Sekali lagi peristiwa 1960an menyimpan banyak praduga yang seringkali tidak perlu namun pantas dibahas. Jikalau dilihat dengan logika kekuasaan dan apa yang sedang berkembang sekarang ini, kebijakan-kebijakan multinasional yang telah sedemikian rupa menjerat, saya pikir kita tidak perlu lagi memicingkan mata untuk melihat kemana sebenarnya sejarah berpihak. Kemana dan apa tujuan dari peristiwa pembantaian kaum Komunis Indonesia, menyimpan skandal konflik perang dingin antara blok barat dan blok timur. Blok barat yang direpresentasikan sebagai Negara-negara barat pasca perang dunia dua yang mempercayai ‘kompetisi bebas kapitalisme,’ dengan blok timur yang diketuai Uni Soviet, yang katanya memiliki misi suci yaitu mensejahterkan seluruh jagad raya dengan Komunisme. Banyak asumsi yang mengarah pada skandal internasional yang dilakukan oleh konspirasi Negara barat terhadap pengikut komunisme di seluruh dunia, dan Indonesia adalah salah satunya. Indonesia tidak memiliki kursi yang spesial untuk dikasihani atas konspirasi ini, karena pada saat itu Vietnam, Kuba, Nikaragua, Afghanistan, Argentina, Chekoslovakia, Aljazair mengalami nasib yang kurang lebih sama. Namun di beberapa negara, ideologi komunis dapat berjaya dan memapankan kapitalisme birokratik.
Kemalangan Indonesia adalah keterbungkaman total pasca-pembantaian 60an ketika logika kekuasaan berganti dan bunglon berubah warna di dalam bentuk yang sama. Dapatkah kita nilai kekuasaan tersebut dari logika pra-pembantaian dimana Indonesia masih berbinar merah, dimana Lekra dan Pramoedya Ananta Toer masih memiliki taring diatas kebebasan berseni dan orang-orang Manifes kebudayaan yang menolak kehadiran kekuasaan di dalam seni diasingkan, ketika kesadaran dan perjuangan kelas hanyalah kamuflase perayaan Stalinisme. Dan dalam sekejap hiruk-pikuk merah pun hilang, sastrawan Lekra Pramoedya Ananta Toer diasingkan tidak hanya di dalam ruang lingkup profesi tapi juga geografi (diasingkan di Pula Buru). Pada era pasca-pembantaian, semuanya tampak bungkam, semuanya, termasuk orang-orang Manifes Kebudayaan yang katanya menolak kekuasaan di dalam seni; entah karena senang ‘seni dapat berekspresi lagi’ atau memang tidak memiliki daya untuk mengangkat kepalan tangan menentang kekuasaan; ataukah sebenarnya dari awal semua ini adalah kesalahan komando sentral PKI yang menyuruh pengikutnya untuk tidak mengangkat senjata dan melawan peluru tajam dengan menundukan kepala, yang menghantar hampir dari keseluruhan jumlah mereka ke dalam kuburan massal. Tidak banyak yang tahu jelas mengenai hal ini, tapi yang pasti sejarah tenang-tenang saja dan aspek kritis dipadamkan, ketika yang tampak setelah itu hanyalah perseteruan antara Pramoedya dan Goenawan Muhammad, film Shadow Play, Partai Rakyat Demokratik, bahkan permintaan maaf Gus Dur kepada partisan PKI yang masih hidup yang menurut intelektual sekaliber Goenawan Muhammad “sudah dapat menuntaskan problematika sejarah.”
Di dalam film New Rulers of the World, seorang jurnalis Inggris, John Pilger, mengkonfirmasikan bahwa pembantaian tahun 60an di Indonesia memang merupakan skandal internasional untuk melepaskan Indonesia dari jerat Stalinisme Soviet, walau ini hanyalah lapisan muka dari cita-cita mereka yang kemudian dilanjutkan dan di representasikan oleh IMF dan Bank Dunia. Namun di film ini, dengan tidak bermaksud merendahkan kemurahan hati John Pilger di dalam membeberkan agenda neo-liberal dan kejahatan korporasi multinasional, tapi sayangnya film Pilger ini juga hanya memberikan kita sebuah dikotomi antara blok barat dan blok timur. Film-film seperti Shadow Play juga mengambil peranan di era pasca-orba ini untuk membeberkan konspirasi internasional di era tersebut, walau pada akhirnya hanya menjadi tontonan apik teori konspirasi dan secara bersamaan mengkonfirmasi amnesia historis gerakan sosial di Indonesia.
Apabila membaca majalah “Pembebasan” (sebuah terbitan dari Partai Leninis Indonesia a.k.a Partai Rakyat Demokratik) ditujukan untuk mencari suatu titik terang dari amnesia histories tersebut, maka pilihannya adalah hitam dan putih. Partai ini mengkritik Stalinisme dan membela Lenin, namun keduanya menyatakan perbedaan di dalam ekspresi yang sama: mereka masih sama-sama percaya bahwa partai mereka harus berkuasa, kapitalisme korporatik harus digantikan dengan “Negara proletar”, dan kesadaran pekerja tidak dapat melampaui kesadaran partai; sebuah etos satu komando, satu kekuasaan dari atas kebawah melalui agen-agen partai, yang lebih pantas disebut sebagai “kediktatoran partai.” Leninisme masih bisa berkamuflase, imej Stalinisme masih menjadi oposisi kapitalisme barat, tapi setelah tembok berlin runtuh dan beralihnya Negara-negara blok timur menuju ‘tatanan dunia baru’ di awal pasca 60an, semua romantisme revolusi 1917 terbukti sebagai kesia-siaan belaka. Mirip agenda-agenda PRD yang mengklaim diri dialektis dengan cita-cita yang sangat romantis. Absolutisme Soviet di dalam tatanan dunia melahirkan momok palsu dari sosialisme dan mitos kekuasaan pekerja; perkembangan ini mengubah bentuk orisinil komunisme menjadi kapitalisme birokratik melalui proses degenerasi yang cukup pendek. Beralihnya sosialisme Bolshevik menuju kapitalisme birokratik di pastikan ketika Tentara merah berhasil membantai insurgen Ukraina yang dipimpin oleh Nestor Makhno juga Dewan Pekerja Kronstadt yang terjadi tidak lebih dari 6 tahun setelah “dunia lama” diusir dari Russia demi mimpi sebuah tatanan sosialisme yang baru.
Ken Knabb, di dalam bukunya Public Secrets, berpendapat bahwa pertikaian antara kubu timur dan barat sebenarnya menyimpan relasi yang menguntungkan satu pihak. Di dalam logika kekuasaan, atau lebih tepatnya logika kapital, pihak yang memiliki modal yang lebih banyaklah yang menjadi jawaranya. Kapitalisme korporatik telah melewati berbagai krisis namun berhasil melampauinya dengan teknik-teknik integrasi yang baru, terutama ketika perang dunia kedua berakhir dan dunia menyambut amerikanisasi yang pesat. Sebuah “pabrikasi” massa yang besar-besaran dimulai setelah produksi industri berkembang pada level yang lebih tinggi, ini dapat dilihat dari perkembangan estetika produksi yang dikondisikan untuk berefleksi pada kemajuan pesat teknologi. Pada saat ini, modal besar, effisiensi, tatanan sosial kondusif yang dapat memacu produksi lebih berpihak pada ideologi “laissez fare” barat dibanding kekuasaan birokrasi komunis yang bobrok.Namun disisi lain, walaupun komunisme Stalinis terbukti menjelma menjadi sebuah kediktatoran dengan imej sosialisme, secara simultan kapitalisme barat juga mencapai titik krisis di dalam transformasinya menuju sistem yang lebih lanjut. Kebutuhan kapital untuk terus memperlebar dominasi menyebabkan krisis yang berkepanjangan (invasi kapitalisme barat ke hampir semua Negara yang masih dijangkit komunisme demi prekondisi globalisasi membutuhkan adanya pembantaian dan konspirasi internasional yang terselubung), kebutuhan ini nyaris menjadi boomerang bagi kapitalisme barat. Gelombang perlawanan yang besar terjadi hampir diseluruh dunia; gelombang protes anti-perang yang dashyat terjadi di Amerika dan Perancis untuk menentang pendudukan tentara As di Vietnam dan Perancis di Aljazair, insureksi di berbagai Negara bagian Amerika Serikat yang mengangkat isu anti-perang, pembebasan perempuan, rasisme dan hak-hak sipil, dan yang paling essensial adalah pemberontakan pelajar di Paris yang juga secara bersamaan mendekonstruksi teori Marxis mengenai prekondisi revolusi dan kesakralan kelas pekerja. Krisis kapitalisme ini menemukan kesamaan visi dengan Stalinisme, karena keduanya hampir dilempar dari alur sejarah oleh krisis yang mereka sebabkan sendiri. Di satu sisi, kepercayaan masyarakat akan tatanan alternatif dari kediktatoran Negara-negara Stalinis kembali mengarah pada ideologi demokrasi liberal barat, walau disisi lain moncong imperial dari logika modal juga tidak dapat menyembunyikan lagi bentuknya. Rekuperasi yang terjadi bisa dilihat ketika pekerja Perancis mengabulkan lobi-lobi Partai Komunis Perancis untuk mundur dari pendudukan pabrik-pabrik, Beattles-Jimi Hendrik dan para lifestyle hippies, juga para sosialis-reformis yang menjadi fondasi demokrasi liberal sekarang ini. Ini adalah tahun-tahun ketika Stalinisme telah mati dan kapitalisme modern memperbaharui bentuknya menjadi wujud reformis—tanpa oposisi palsu dari Stalinisme, yang disaat bersamaan mengkonfirmasikan dikotomi timur dan barat, cukup sulit bagi kapitalisme modern untuk memperbaharui bentuknya dan meredakan krisis. Ken Knabb menyatakan hal ini dengan lebih jelas: “Walaupun pemimpin-pemimpin barat berpura-pura menyambut kejatuhan Stalinis baru-baru ini sebagai sebuah kemenangan alami bagi sistem mereka, tidak satupun dari mereka memperhitungkan kedatangannya dan merekapun tidak mengetahui apa yang akan mereka lakukan dengan masalah yang datang setelah itu selain dengan mengambil keuntungan dari situasi tersebut sebelum semuanya hancur berantakan. Korporasi multinasional yang monopolistik yang menyatakan “free-enterprise” sebagai sebuah obat mujarab cukup was-was bahwa kapitalisme pasar-bebas dapat saja meledak di dalam kontradiksinya sendiri jika tidak di selamatkan oleh beberapa gaya baru pseudo-sosialis yang menuntut reformasi.”
Di era neo-liberal yang mengikat seluruh relasi ekonomi politik dunia ke dalam satu ikatan dominasi imperium, sebuah alternatif tatanan masyarakat yang baru adalah sesuatu yang sangat urgen. Tapi ini jelas bukan sebuah alasan untuk kembali menjadi romantis. Sebuah alternatif harus melampaui logika kekuasaan yang sedang merongrong. Pertikaian antara Goenawan Muhammad dan Pramoedya apabila dilihat dari sudut dialektis sejarah, menjadi semata-mata sebuah dikotomi yang sama. Goenawan Muhammad, seorang turis intelektual pseudo-radikal sejati, figur yang mengklaim tidak berada diantara ekstremis kanan dan kiri, adalah sosok liberal yang merepresentasikan ideologi kapitalisme lanjut. Apalagi klaimnya sebagai kiri-tengah yang menjijikan dan kolaborasinya dengan Partai Amanat Nasional. Sedangkan Pramoedya, yang baru-baru ini muncul di dalam tabloid “Pembebasan” (ironisnya), sudah terlalu tua untuk tidak setuju dengan politik reformis-kerakyatan regenerasinya. Sekarang pilihannya bukan lagi go west ataupun go east, semenjak blok timur sudah tinggal arang, tetapi bentuk reformis di dalam gayanya yang berbeda-beda.
Agenda-agenda kaum reformis memang dapat menambal beberapa krisis yang disebabkan oleh kapitalisme lanjut, tapi disatu sisi juga membuat akselerasinya semakin meningkat. Fakta bahwa pekembangan baru-baru ini tidak dapat dilampaui oleh agenda-agenda reformis seperti: jerat ekonomi global yang menyebabkan kerusakan di tiap sisi (pengrusakan alam, kemiskinan yang meningkat yang juga menyebabkan kerusakan dimana-mana) dan tidak ada jalan keluar dari jerat ini selain tunduk sepenuhnya pada arus kapital dunia atau menghancurkannya sampai tuntas: menghapuskan sistem ekonomi komoditi yang menjadi basis dari kapitalisme neo-liberal dan institusi-institusi hirarkis yang mengakomodasinya. Ini memang merupakan sebuah agenda yang besar, namun yang saya takutkan adalah, solusi ini merupakan satu-satunya jalan untuk melampaui krisis.
Ini bukan saatnya lagi untuk memilih dan menonton panggung kehidupan kita. Bukan saatnya lagi terjebak diantara dua kubu kekuasaan yang memiliki logika yang sama: kanan dan kiri, Bush atau Castro, Goenawan atau Pramoedya, dan oposisi-oposisi lainnya antara para pemimpin yang selalu menyuruh kita duduk dan menonton. Memilih pemimpin adalah alienasi itu sendiri, pilar dari logika kekuasan yang memporak-porandakan kehidupan kita secara general. Tiap jam masyarakat porak-poranda karena kebijakan neo-liberal, tiap hari orang mati kelaparan, dan tiap saat hutan dibabat habis demi kepentingan korporasi. Semua yang ada di dalam hidup kita; lingkungan, udara, dan ekologi, semuanya direnggut demi kebutuhan sebuah kerajaan ekonomi global. Setiap jentik dari bagian hidup kita bergantung pada keserakahan logika kapitalisme. Dan solusi yang kita dapatkan hanyalah reformasi yang tidak akan pernah dapat melampauinya ataupun lsm-lsm yang menambal satu krisis dan menghasilkan krisis di berbagai tempat.
Gerakan sosial Indonesia harus dapat mengatasi amnesia historis ini dan menemukan alternatif total, dan juga tidak terjebak di dalam dunia para pemimpin maupun petualang intelektual yang selalu ingin berada di jalur yang aman, yang akan selalu berkata “bahwa semuanya akan baik-baik saja apabila reformasi dilaksanakan dengan benar oleh pemimpin yang benar juga.”
Amati ini baik-baik, semua pertimbangan diatas mengacu pada satu konklusi, bahwa masyarakat yang terbebaskan hanya dapat diciptakan melalui partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri, bukannya dari organisasi hirarkis yang mewakili mereka. Bukan juga dalam acuan memilih pemimpin-pemimpin baru yang “lebih bertanggung jawab” dan blablabla., tapi menghindari adanya perpindahan kekuasaan ke tangan segelintir orang dan menyerahkan independensi masyarakat dalam menentukan kehidupan mereka sendiri. Ketika semua proyeksi tontonan, ilusi kepemimpinan, benar dan salah, baik dan buruk lenyap, yang ada tinggal kita sendiri, dan berbarengan yang lain menginisiasikan perubahan secara otonom, dan ini saya pastikan tidaklah semudah memilih dan menurunkan pemimpin. Ini semua ada di tangan kita. Pilihannya sekarang adalah mengambil alih panggung sejarah (tidak menontonnya dari kejauhan) atau menelan pil amnesia historis dan kembali pada alur dunia yang repetitif. Ya Basta! Enough.
Free-spirit dan anarkis komunis inggris abad 17
Para Ranters dan Diggers
Gerakan free-spirit anarkis, perlahan-lahan berkembang menuju bentuk yang lebih konkrit pada abad ke 17 di Inggris. Gerakan ini menamai diri mereka sebagai Ranters dan Diggers. Pada masa tersebut kerajaan Inggris sedang mengalami revolusi dan perang sipil yang tidak berkesudahan. Raja dihukum mati diikuti dengan bertahtanya kediktatoran Cromwell. Kejadian-kejadian ini semakin meyakinkan hati masyarakat bahwa hidup mereka tidak akan pernah berubah. Karena situasi krisis ini, anarkisme mulai subur dihati para pemberontak, para prajurit yang kecewa oleh perang, petani miskin, dan para penghuni pinggiran di kota-kota.
Ribuan Ranters di London memiliki tempat berkumpul (Tavern) yang mereka juluki sebagai—‘the true House of God’—tempat dimana mereka minum-minum, bersenang-senang, bernyanyi, bersiul, berkata kotor, dan ‘berbicara tanpa henti’—inilah yang mereka maksud sebagai Rant ( berbicara terlalu banyak ). Para Ranters ini adalah pasifis, mereka lebih memilih mabuk setiap hari daripada berperang dan membunuh satu sama lain; namun disisi yang lain mereka juga menyatakan bahwa dosa itu tidak ada; bagi mereka ‘mengumpat, bermabuk-mabukan, perzinahan, dan pencurian itu sesuci tuhan.’ Di mata mereka juga: ‘keseimbangan, persamaan dan komunitas akan membangun kasih sayang, perdamaian, dan kebebasan sempurna yang universal.’
Gerakan inipun dengan waktu yang singkat menjadi popular diseluruh dataran Inggris, sehingga Cromwel memutuskan untuk bertindak tegas. Banyak dari para Ranters ditangkap dan dipenjara bahkan di hukum mati karena perilaku mereka yang dianggap menghina sensibilitas borjuis. Sebagaimana yang pernah dikatakan Cromwell mengenai seorang Ranter: ‘wanita ini terlalu kotor seperti binatang, kupikir ia tidak pantas hidup.’
Pada tahun 1640an terjadi musim panen yang buruk diikuti dengan kenaikan harga makanan dan pajak, pada saat yang bersamaan perang berakhir dan membuat ribuan prajurit menggelandang di jalan. Dan diseluruh Inggris bagian selatan: ‘para kaum miskin berkumpul bersama di dalam kelompok-kelompok dan merampas jagung-jagung yang akan di bawa ke pasar, mereka membagi-bagikan jagung rampasan tersebut yang lainnya dan berkata bahwa mereka tidak mau kelaparan, karena itu suatu keharusan untuk menghapuskan seluruh peraturan dan pemerintah, dan kelaparan akan memecah menerobos dinding-dinding batu.’
Di Burford tahun, 1649, seluruh rejimen memberontak namun dengan sekejap di tundukan secara keji. Di Walton-Thames, para tentara mendobrak sebuah gereja dan mengumumkan penghapusan dari pajak, kependetaan, kehakiman, dan injil. Di dekat bukit St.George di hari yang sama, 30 wanita dan pria, yang dipimpin oleh Gerard Winstanley, menggali lahan kosong dan mulai menanam benih di lahan tersebut.
Seorang pengamat dari kejadian tersebut menulis,‘Mereka mengundang semua orang untuk menolong mereka’, dan berjanji akan memberikan mereka daging, minuman dan pakaian. Mereka mengatakan kalau jumlah mereka akan bertambah menjadi 4 atau 5 ribu orang di dalam jangka waktu sepuluh hari.
Komunitas Digger arahan Winstanley ini tidak pernah melebihi jumlah 50 orang, walau kelompok-kelompok lainnya muncul di seluruh daratan Inggris.
Dari awal mulanya komunitas Digger ini sudah mengalami penolakan bahkan penyerangan dari penduduk lokal yang ‘berada,’ mereka menghancurkan perumahan komunitas tersebut, bibit-bibit dan alat menggarap tanah juga di rampas. Kaum Diggers beberapa kali di gebuki dan Winstanley sendiri dipenjara dua kali. Pada bulan maret 1650, ketika gubuk-gubuk mereka yang baru di bakar dan mereka semua terancam untuk dibunuh, para Diggers menyerah dan menghentikan aktifitas mereka.
Eksperimen mereka ini menginspirasikan Winstanley untuk menorehkannya diatas kertas. Tulisan yang berjudul The Law of Freedom yang diterbitkan di tahun 1652 ini adalah tulisan yang pertama kalinya di dalam sejarah memberi penjelasan yang seksama mengenai komunisme-anarkis. Winstanley memulainya dengan tuntutan agar semua orang dapat memiliki alat-alat bertani juga benih dan tanah bersama-sama dan memproduksinya secara bebas untuk semua. Semua orang yang masih sehat harus bekerja bersama dan tidak satupun orang memiliki hak untuk memiliki pekerja. Anak-anak pertama-tama harus diajari oleh orang tua mereka untuk mempelajari pertukaran, seni, ataupun ilmu pengetahuan agar mereka dapat mengambil peranan di dalam kerja-kerja produktif di masa depan. Politik akan di desentralisasikan; Negara tidak lagi diperlukan ketika semua orang terlibat di dalam administrasi komunitas-komunitas mereka sendiri. Pegawai publik tetap diperlukan, dan akan di pilih setiap setahun sekali.
Tapi fondasi utama dari rencana Winstanley adalah penghapusan dari kepemilikan pribadi atas tanah-tanah sebagai basis dari kebebasan yang sebenarnya. Akses yang setara untuk semua sumberdaya alam adalah esensi dari kebebasan dimana kebebasan yang lainnya akan menyusul:
Perhatikanlah bahwa Inggris dapat menjadi masyarakat yang bebas apabila saja kaum miskin yang tidak memiliki tanah dapat memiliki kesempatan bebas untuk menggali dan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki bersama dan juga untuk hidup senyaman para tuan tanah di pemukiman mereka. Dan itu bukan hanya sumber daya alam yang seharusnya diambil alih dan dimanfaatkan oleh masyarakat, namun keseluruhan dari sumberdaya dan lahan-lahan kosong di Inggris dan diseluruh dunia harus diambil alih oleh masyarakat dengan kebijaksanaan, dengan tidak mengklaim adanya kepemilikan pribadi namun mengambil alih bumi sebagai harta karun bersama.
William Godwin tentang Pendidikan
William Godwin
(1756-1836)
Tak ada yang bisa lebih menyedihkan... Hanya ada satu keberatan cukup besar yang nampaknya menentang segala keutamaan ini [menentang suatu pendidikan libertarian]. Si pengajar ketakutan sejak awal, dan berkata: Bagaimana mungkin saya bisa membuat kerja literatur menjadi suatu obyek yang menyenangkan, lagi pula, bagaimana mungkin saya bisa menjaga kesenangan ini dengan segala daya kekuatannya kendati ada kemerosotan semangat yang akan terjadi setiap hari, dan kendati ada perubahan kualitas yang terjadi pada hampir segala gairah manusia, bahwa semangatnya sirna seiring surutnya kebaruan obyek itu?
Tetapi marilah kita tidak tergesa-gesa untuk mengakui hal ini karena suatu keberatan yang tak tertanggungkan. Kalau rancangan yang dikemukakan di sini memperbesar kesulitan guru di satu titik tertentu, biarlah diingat bahwa ini meringankan dia dari beban yang tak tertanggungkan dalam hal-hal lain.
Tak ada yang bisa lebih menyedihkan daripada kondisi guru dalam corak-corak pendidikan masa kini. Dia adalah yang terburuk dari para budak. Dia diasingkan ke pemenjaraan yang paling buruk... Seperti orang malang yang ditimpa nasib sial di sebuah kota yang hancur-lebur, dia dihancurkan agar yang lain bisa hidup... Dia dipandang sebagai seorang tiran oleh orang-orang yang berada di bawah wilayah hukumnya, dan dia memang seorang tiran. Dia merusak kesenangan-kesenangan mereka. Dia memberi kepada masing-masing siswa sebagian dari kerjanya yang tidak dia senangi. Dia memantau ketidakberesan dan kesalahan mereka. Dia terbiasa berbicara kepada mereka dengan nada mendikte dan mengecam. Dia adalah sang pesuruh untuk menghukum kebodohan mereka. Dia hidup sendirian di tengah kumpulan banyak orang. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)
Bagaimana sebenarnya kita belajar?
Belajar dengan gairah adalah aktivitas yang sesungguhnya; tanpa gairah, belajar tak lain hanyalah aktivitas semu dan sekedar olok-olok. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)
Manusia adalah mahluk yang senang bertindak dari dirinya sendiri; dan tindakan yang dilakukan dengan cara ini mengandung kesehatan dan tenaga yang jauh lebih besar ketimbang tindakan yang kepada itu dia digerakkan secara kuat oleh kehendak yang asing bagi kehendaknya sendiri. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
...Saya ingin sekali merangsang seorang individu tertentu untuk mencapai pengetahuan. Satu-satunya metode yang mungkin dimana saya bisa membangkitkan gairah seorang mahluk yang peka agar melakukan suatu tindakan sukarela, adalah dengan memunculkan motif. Motif itu ada dua macam, intrinsik dan ekstrinsik. Motif intrinsik adalah motif yang muncul dari sifat yang inheren dari hal yang direkomendasikan. Motif ekstrinsik adalah motif yang tidak memiliki hubungan konstan dan permanen dengan hal yang direkomendasikan, namun tergabung ke dalamnya secara kebetulan atau karena kesenangan individu tertentu.
Jadi, saya bisa merekomendasikan suatu jenis pengetahuan tertentu dengan menunjukkan keunggulan-keunggulan yang niscaya akan hadir saat pengetahuan itu didapat, atau akan mengalir dari penguasaan pengetahuan itu. Atau, di sisi lain, saya bisa merekomendasikannya secara despotis, dengan rayuan atau ancaman, dengan menunjukkan bahwa upaya gigih untuk mempelajarinya akan saya sambut dengan senang hati, dan pengabaiannya akan saya tanggapi dengan rasa tidak senang.
Yang pertama dari kelas-kelas motif ini tak ragu lagi adalah yang terbaik. Digerakkan oleh motif seperti itu adalah kondisi yang murni dan sejati dari seorang mahluk rasional. Dengan mempraktekkannya, niscaya memperkuat penilaian/pertimbangan. Ia mengangkat kita dengan suatu rasa kemandirian. Ia menyebabkan orang bisa berdiri di atas kaki sendiri, dan merupakan satu-satunya metode yang dengan itu orang bisa dibuat benar-benar menjadi seorang individu, mahluk, bukan dari keyakinan yang implisit, melainkan dari pemahamannya sendiri. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)
...Pendidikan publik selama ini selalu mencurahkan energinya dalam mendukung prasangka; ia bukan mengajarkan kepada murid-muridnya kegigihan yang akan membawa setiap dalil kepada pembuktiannya, melainkan mengajarkan seni untuk mensucikan ajaran-ajaran seperti itu karena berpeluang untuk dimapankan. Kita mempelajari Aristoteles, atau Thomas Aquinas, atau Bellarmine, atau hakim ketua Coke, bukan agar kita bisa mendeteksi kesalahan-kesalahan mereka, tetapi agar pikiran kita bisa dipenuhi dengan absurditas-absurditas mereka. Ciri ini nampak di setiap spesies kemapanan publik... pelajaran-pelajaran utama yang diajarkan adalah pemujaan yang bersifat tahayul kepada gereja Inggris, dan membungkuk hormat kepada setiap orang yang mengenakan jas necis. Semua ini bertentangan dengan kepentingan umat manusia yang sesungguhnya. (Keadilan Politik, VI, viii.)
Milton telah menulis sebuah puisi sublim tentang cerita konyol perihal memakan sebuah apel, dan tentang dendam abadi yang dideklarasikan oleh Sang Maha Kuasa terhadap seluruh umat manusia, karena nenek moyang mereka bersalah atas pelanggaran yang kelam dan menjijikkan ini. Tujuan puisi ini, sebagaimana dikatakan Milton kepada kita, adalah untuk menjustifikasi cara-cara Tuhan kepada manusia. (B. I, ver. 25). Namun, salah satu hal paling mengesankan yang dengan sendirinya terlihat dari topik ini ialah, bahwa moral yang sesungguhnya dan kesimpulan jelas dari sebuah karangan seringkali tersembunyi selama berabad-abad dari para pembacanya yang paling giat. Kitab-kitab telah diturunkan dari generasi ke generasi sebagai guru sejati yang suci dan perwujudan cinta Tuhan, yang mewakili dia sebagai sesosok despot[1] yang bersifat tirani dan tanpa belas kasihan, sehingga apabila kitab tersebut dipertimbangkan dengan cara-cara selain lewat medium prasangka, maka kitab tersebut tidak bisa mengilhamkan apapun selain kebencian. Nampak bahwa kesan yang kita peroleh dari sebuah buku bergantung kurang-lebih pada isi sebenarnya, ketimbang pada situasi pikiran dan persiapan yang dengan itu kita membacanya. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
Apa yang sebaiknya dipelajari anak-anak?
Apakah benar-benar perlu bagi seorang anak untuk mempelajari sesuatu sebelum dia bisa memiliki ide tentang nilai dari sesuatu itu? Adalah mungkin bahwa tidak ada sesuatu pun yang sungguh penting bagi seorang anak untuk dipelajari. Tujuan sesungguhnya dari pendidikan remaja adalah untuk menyediakan, bagi remaja usia lima sampai dua puluh tahun, suatu pikiran yang teratur rapi, aktif, dan siap untuk belajar. Apapun yang akan mengilhami kebiasaan-kebiasaan industri dan observasi, akan bisa menjawab tujuan ini secara memadai. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)
...Kalau prinsip-prinsip yang kita baca melulu menumpuk dalam pikiran kita, tak berkembang dan tak berubah, tak ragu lagi bahwa prinsip-prinsip itu hanya akan membuyarkan pikiran kita. Namun, kalau kita membaca dengan semangat yang wajar, barangkali kita tidak bisa membaca terlalu banyak: dengan kata lain, kalau kita memadukan refleksi-refleksi kita sendiri dengan apa yang kita baca; kalau kita membedah ide-ide dan argumen-argumen penulis kita; kalau dengan mencari sumber-sumber tambahan, kita berupaya keras untuk menjernihkan ingatan akan dia dalam pikiran kita; kalau kita membandingkan bagian dengan bagian, mendeteksi kesalahan-kesalahannya, mengembangkan model-model baru dari prinsip-prinsipnya, mengambil darinya bagian-bagian yang memang sangat bagus, dan menjelaskan di dalam diri kita alasan ketidaksepakatan maupun kesepakatan kita, maka seorang pembaca yang bijak akan memiliki ide yang jumlahnya jauh lebih banyak, yang lalu-lalang di pikirannya, ketimbang ide-ide yang disajikan kepadanya oleh si penulis. (“Tentang Belajar”, Enquirer, XI.)
Belajar adalah sekutu, bukan lawan, dari jenius... orang yang membaca dengan semangat yang wajar, jarang sekali akan bisa membaca terlalu banyak. (“Tentang Belajar”, Enquirer, XI.)
Kebebasan dan pengetahuan
Dengan cara apa nalar, yang bebas dari corak-corak dan praktek-praktek dunia yang umum diterima, mengajari kita untuk mengkomunikasikan pengetahuan? Kebebasan adalah salah satu yang terbaik dari semua keunggulan duniawi. Karena itu, saya akan mau mengkomunikasikan pengetahuan tanpa melanggar—atau dengan sesedikit mungkin kekerasan terhadap—kemauan dan penilaian individu orang yang akan diajar. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)
Berbicaralah dengan bahasa kebenaran dan nalar kepada anakmu, dan tak usah khawatir akan hasilnya. Tunjukkanlah kepadanya bahwa apa yang anda rekomendasikan itu berharga dan dikehendaki, dan tak usah cemaskan apapun, melainkan bahwa dia akan menghendakinya. (Keadilan Politik, I, iv.)
Kalau sesuatu itu benar-benar bagus, ia bisa ditunjukkan sebagai benar-benar bagus. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)
...Karena tujuan sebenarnya dari pendidikan bukanlah untuk membuat murid hanya menjadi duplikat dari pengajarnya, maka justru harus disambut dengan sukacita, bukan diratapi, bahwa beragam bacaan akan membawanya kepada latihan-latihan pemikiran baru... (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
Kalau kita menginginkan anak-anak kita untuk terus-terang dan tulus dalam perilakunya, kita harus menjaga agar keterus-terangan dan ketulusan tidak menjadi sumber keburukan bagi mereka... penghukuman tidak akan mendapat tempat dalam sebuah sistem pendidikan yang benar-benar bagus; bahkan raut marah dan kata-kata omelan akan sepenuhnya dijauhkan. (“Tentang Penipuan dan Keterus-terangan”, Enquirer, XII.)
Telah ditunjukkan bahwa kesan yang kita peroleh dari sebuah buku, sedikit-banyak tergantung pada isi sesungguhnya dari buku itu ketimbang pada sifat pikiran dan persiapan yang dengan itu kita membacanya. Karena itu, nampaknya ini harus dilanjutkan dengan prinsip bahwa, seorang pengajar yang terampil tidak perlu terlalu cemas untuk menghargai buku-buku yang akan dipilih muridnya sebagai bahan bacaan. Dalam hal ini, ungkapan terkenal dari rasul Paulus dapat diakui kebenarannya: Bagi orang yang murni, segala sesuatu itu murni. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
Percayakanlah [siswa itu] sampai tingkat tertentu pada dirinya sendiri. Perkenankan dia dalam beberapa hal untuk memilih bahan bacaannya sendiri. Akan ada bahaya kalau harus ada sesuatu yang harus dipelajari dan monoton dalam pemilihan yang harus kita lakukan bagi siswa itu. Perkenankan dia untuk menjelajahi rimba literatur. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
...Anak-anak haruslah diajak ke diskusi yang sesungguhnya, bukan ke kancah diskusi olok-olok yang memalukan. (“Tentang Penalaran dan Perdebatan”, Enquirer, XI.)
Pengetahuan dan kekuasaan
Tidak ada kesenjangan di antara umat manusia yang memungkinkan seorang manusia untuk mencengkeram beberapa manusia lainnya dalam ketertundukan, kecuali sejauh mereka memang mau ditundukkan. Semua pemerintahan didirikan berdasarkan opini. Orang-orang di masa kini hidup dalam suatu bentuk tertentu, karena mereka menganggap sebagai kepentingan mereka untuk melakukan hal sedemikian itu. Satu bagian sesungguhnya dari sebuah komunitas atau imperium dapat dicengkeram dalam ketertundukan dengan paksaan; tetapi ia tidak bisa berupa paksaan personal dari sang despot mereka; ini pastilah paksaan dari satu bagian lainnya dari komunitas tersebut, yang memegang pendapat bahwa adalah kepentingan mereka untuk mendukung kekuasaannya. Hancurkanlah opini ini dan sistem yang dibangun berdasarkan opini ini, hingga runtuh ke tanah. (Keadilan Politik, II,iii.).
[1] Orang yang memerintah dengan sewenang-wenang
Seni abad 19 dan Anarkisme
Resurgensi anarkisme di akhir abad ke 19 mendapatkan dukungan tidak hanya dari pekerja industri tapi juga seniman-seniman avant-garde Perancis, khususnya para pelukis and penyair. Pada saat itu puisi aliran Simblolis sudah mendapatkan reputasi sebagai aliran sastra pemberontakan. Figure-figur utamanya seperti—Arthur Rimbaud, Paul Verlaine, Stephane Mallarme, dan Charles Baudelaire—menjadikan puisi mereka di dalam oposisi keras terhadap dogma mapan dari struktur dan sifat yang kaku. Aliran Simbolis ini menekankan bahwa penyair harus bebas untuk menciptakan dan menggunakan bentuk menurut kemauan mereka sendiri. Yang lebih penting lagi, panduan prinsip-prinsipnya harus menjadi keunikan dan pengalaman subjektif dari penyair itu sendiri. Syair yang baik diciptakan dan dimengerti dengan membiarkan kebebasan total imajinasi untuk meginterpretasi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh penyair Simbolis Stuart Merril:
‘Apa yang menjadi kekuatan dari teori simbolis adalah anarkinya itu sendiri. Yang menuntut penyair agar menjadi signifikan, dalam konteks individu, dan dari situ mereka memperlihatkan diri mereka sendiri di dalam pikiran dan emosi dengan menggunakan imaji-imaji semungkin-mungkinnya. Aliran Simbolis adalah anarkisnya sastra.’
Karya Stirner The Ego and its Own di konsumsi lingkup luas dari lingkaran aliran Simbolis dan penulis-penulis seperti Felix Feneon, Gustave Kahn, Emilie Verhaeren, Bernard Lazare, Pierre Quillard dan Paul Adam yang secara terbuka menerima anarkisme, yang lanjut hari mengomentari and menjuluki Ravachol, seorang anarkis penjahat, dengan berkata ‘seorang santo telah lahir diantara kita.’
Dukungan terhadap anarkisme bahkan lebih kuat diantara para pelukis. Seorang seniman Impresionis, Camille Pissarro, secara regular menghasilkan litograf untuk Koran La Revolte, walaupun sering sama sekali tanpa imbalan uang, Camille menyelamatkan Koran ini dari kebankrutan dua kali dengan membayar semua hutang-hutang Koran tersebut. Figure-figur kunci dari gerakan neo-impressionis seperti—Paul Signac, Henri Edmond Cross, Charles Angrad, Theo Van Rysselberghe dan Maximilien Luce—diantara mereka, yang juga anarkis dan sering memberi kontribusi pada publikasi-publikasi anarkis. Anak-anak Pissarro tumbum menjadi pelukis dan anarkis. Buku The Anarchist Peril, yang terbitkan pada tahun 1894, berisi dua belas lukisan karya anak-anak dan cucu Pissarro, mereka adalah Lucien, Georges, Felix, dan Rodo, dan di tahun 1901 Lucien mengilustrasikan sebuah buku anak-anak yang ditulis oleh penulis anarkis Jean Grave. Octave Mirbeau, seorang anarkis dan novelis, mendeskripsikan keluarga Pissarro:
‘….di dalam masa tua, dikelilingi oleh anak-anaknya, yang semuanya menjadi seniman, yang berbeda-beda! Semuanya mengikuti sifat alami mereka sendiri. Ayahnya tidak mengajari mereka teori, doktrin, pandangan dan perasaan yang dimilikinya. Ia membiarkan anak-anaknya untuk mengembangkan sendiri visi dan intelejensi individual mereka sesuka hati.’
Di dalam kata-kata Pissaro: ‘Sungguh indah dan membahagiakan bahwa anak-anak ini memiliki cinta terhadap seni. Zaman kita ini sungguh menyedihkan sampai-sampai kita hanya bisa merasakan hidup kita di dalam mimpi yang indah.’
Dada: anti-seni
Semasa perang dunia, Negara Swiss yang netral menjadi surga bagi kaum radikal, pembelot, pasifis, dan para seniman yang melarikan diri dari kegilaan perang. Pada tahun 1916 Sebuah grup bernama Cabaret Voltaire di Zurich, yang beranggotakan Hugo Ball, seorang penyair muda dan sutradara teater, Emmy Hennings, seorang penyanyi dan penari kabaret, memulai sebuah gerakan yang bertujuan untuk menghancurkan seni dan menyerang keseluruhan tatanan borjuis.
Banyak seniman yang berasal dari berbagai macam gerakan seni seperti—kubisme, ekspresionisme, post-symbolisme, dan futurisme—bergabung untuk membentuk grup seniman avant-garde radikal internasional yang mengkerucut menjadi Cabaret. Pada tanggal 14 bulan Juli, penyair anarkis, Tristan Tzara mendeklamasikan syairnya Manifesto of Mister Fire Extinguisher. Dada telah lahir. Syair ini di ciptakan untuk membawa sebuah iklim kekacauan, ketidakteraturan dan kontradiksi yang berapi-api untuk menghancurkan—untuk ‘menegasikan’—tatanan yang mapan. Dada pun menjadi semakin abstrak dan eksrim. Karya The Admirals Seeks a House to Rent dibaca oleh beberapa orang dengan bahasa yang berbeda-beda secara bersamaan, yang diringi dengan siulan, bunyi bell, letupan, drum, dan pukulan diatas meja. Tzara di dalam tulisannya Notes for the Bourgeois, menjelaskan syairnya: ‘memberikan kemungkinan bagi para penonton agar menghubungkannya ke dalam porsi yang sesuai bagi diri mereka dengan elemen karakteristik personalitas mereka sendiri …’
Para Dadais menyerang seni tanpa lelah karena mereka melihatnya sebagai simbol utama dari kultur borjuis. Namun di saat yang bersamaan mereka juga percaya bahwa seni dapat di re-definisikan kembali agar menjelma menjadi pengalaman yang sepenuhnya di dalam hidup. Dengan demikian Dada mempunyai dua tujuan: pertama, untuk menghancurkan tatanan sosial melalui seni; kedua, mencapai kebebasan total melalui seni. Kebebasan yang mereka maksud bukan hanya semata-mata mengakhiri tirani dari budaya borjuis,. atau semakin leluasanya kebebasan politik, tapi pembebasan total dari tatanan itu sendiri. Karena itu, mereka melihat penghapusan dari logika dan rasionalitas yang berkuasa, adalah sesuatu yang normal dan lumrah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Hans Richter:
‘Seni harus membentuk jalannya menuju fungsinya yang baru dimana hanya dapat diketahui setelah negasi total akan segala sesuatunya yang pernah eksis sebelumnya—sampai saat itu, kekacauan, destruksi, perlawanan, ‘confusion.’ Dan kesempatan untuk peranan ini bukanlah ekstensi dari sudut pandangan Seni, namun sebuah prinsip akan pembubaran dan anarki di dalam Seni—anti-Seni.’
Dada menginginkan untuk mendobrak batas-batas yang menghalangi dan kondisi dari pikiran yang sadar, batas-batas yang menghalangi kreasi maupun kesadaran akan kebebasan di dalam pikiran yang dipusingkan oleh kontradiksi-kontradiksi absurd dunia modern—sebuah dunia dimana, sebagai contoh, pemerintah mengeksekusi penjahat dikarenakan kejahatan pembunuhan tapi secara bersamaan mengambil keuntungan dari pembantaian manusia dimana pemerintah sendiri terlibat. Dada melihat batasan-batasan ini dapat dihancurkan dengan membukan jalan bagi irrasionalitas, dan ketidakteraturan, dan dari sini akan membuka kemungkinan sebuah dunia baru, sebuah perubahan, dimana batasan-batasan dan aturan musnah, yang ada hanya spontanitas dan kreatifitas individu—sebuah dunia Seni.
Pemberontakan di Berlin tahun 1918 memberikan kesempatan bagi para Dadais untuk membawa ide mereka ke tingkat praktik. Richard Huelsenbeck dan Raoul Haussman berangkat ke kota dan pada bulan April membentuk Dewan sentral Dadais Revolusioner. Manifesto mereka menginginkan:
Serikat revolusioner internasional kaum intelektual yang kreatif dari pria dan wanita di dalam basis komunisme radikal.
Introduksi dari penggangguran progresif melalui mekanisasi yang komprehensif di tiap sudut aktifitas. Hanya melalui pengangguran, terbuka kemungkinan bagi individu untuk mencapai kepastian sebagai kebenaran dari hidup dan pada akhirnya membiasakan diri dengan pengalaman.
Pengambil-alihan yang urgen dari kepemilikan—yaitu, sosialisasinya—dan pemanfaatan komunal bagi semuanya. Selanjutnya, ereksi dari kota yang bergairah, taman-taman yang dimiliki oleh masyarakat sebagai suatu keseluruhan dan mempersiapkan kemanusiaan untuk sebuah kebebasan yang sebenarnya.
Para pastur dan para guru diwajibkan untuk setia pada ‘Dadaist Articles of Faith.’
Penggunana syair Dada sebagai sebuah doa resmi Negara.
Gereja-geraja diwajibkan untuk mengadakan pertunjukan musik dan puisi Dadais.
Pembentukan 150 sirkus-sirkus demi pencerahan bagi proletariat.
Pembuatan regulasi dari seluruh relasi seksual menurut kepercayaan Dadaisme Internasional dengan pendirian dari sebuah Lembaga Seksual Dadais.
Dewan Revolusioner Berlin merespons para Dadais dengan berencana mengangkat Huelsenbeck sebagai komisaris dari Fine Arts! Diantara Huelsenbeck terdapat juga para seniman seperti Frans Jung, John dan Weiland Heartfield, George Grosz, Walter Mehring, Hans Richter, dan Kurt Schwitters.
Sementara itu di Cologne, Marx Ernst dan Johannes Baargeld membentuk Dada Conspiracy of the Rhineland. Majalah anarkis mereka yang bernama Der Ventilator terjual sebanyak 20 ribu eksemplar sampai ketika majalah ini disupresi oleh Polisi. Di tahun 1920, Hans Arp bergabung untuk mengadakan ekshibisi Dada besar-besaran untuk pertama kalinya. Satu-satunya jalan masuk menuju ekshibisi tersebut, yang di adakan di sebuah halaman tertutup di belakang sebuah kafe, adalah melewati sebuah tempat buang hajat umum. Ketika pengunjung memasuki tempat ekshibisi, mereka akan disambut oleh seorang gadis muda, yang berpakaian seakan-akan hari itu adalah hari komuni katolik pertamanya, sembari mengeluarkan kata-kata cabul. Diantara ekshibisi ada seni pahat karya Ernst yang dibuat dari kayu yang sangat keras dengan menggunakan kapak, diatasnya tertera sebuah tulisan yang mengundang orang-orang untuk menghancurkan kerja.
Kembali ke Berlin, anarkis dan Dadais Johanes Baader mengklaim dirinya sebagai ‘Superdada, President of the League of Superdadaist Intertelluric Nations and Representative of the Desks of Schoolmasters Hagendorf.’ Disebuah upacara pentahbisan pemerintah Jerman yang baru di tahun 1919, Baader menyebarkan poster ke pengunjung dan penonton, yang menominasikan dirinya sebagai Presiden dari dunia.
Outro: elegi untuk Revolusi
How many stopped writing at thirty?
How many went to work for Time?
How many died of prefrontal
Lobotomies in the Communist Party?
How many are lost in the back wards
Of provincial madhouses?
How many on the advice of
Their psychoanalysts, decided
A business career was best after all?
How many are hopeless alcoholics?
Diatas adalah sebuah potongan puisi Rexroth yang saya ambil dari tulisan Ken Knabb Relevance of Rexroth. Sebuah puisi yang menyiratkan kekecawaan sekaligus sebuah panggilan. Panggilan untuk Revolusi? Mungkin saja, apabila dihubungkan dengan kehidupan si penyair, yang tidak lepas dari aktifitas politik radikal
Namun bukan hidup Rexroth yang ingin saya tulis disini. Sudah banyak tulisan mengenai Rexroth sebagaimana hidup yang telah ia jalani. Mari tinggalkan Rexroth dan melihat ke diri kita sendiri.
Harapan generasi revolusioner hampir berakhir. Ketika yang kita lihat hanya sebatas imaji-imaji dan bukan aksi. Perkembangan pasca hc/punk, pasca 98, pasca-pasca dan pasca lainnya hampir tidak membawa kita kemana-mana selain sebuah jalan menuju situasi yang sama. Generasi revolusioner masih terlihat diseberang kabut, dan yang sudah melewatinya berada di persimpangan, kadang melihat sebuah jalan, kadang berhenti di jalan buntu. Kekosongan yang tidak dapat dilampaui.
Banyak yang bilang perkembangan semacam ini lebih menuju kepada alasan yang realistis. Kebutuhan untuk mencari uang, hidup enak, aman, santai, tanpa ada gangguan dan resiko. Sebuah impian zaman modern. Kesadaran manusia yang kembali belajar di sekolah untuk mengenal kembali kompromi.
Tapi ada juga yang kembali, bukan hanya kompromi ‘secuil demi cuil,’ tapi sepenuhnya, kembali memberi dedikasi pada dunia tua yang membusuk. Diantara bar-bar para eskapis yang frustasi, dikamar isolasi yang absurd, dan diantara desakan-desakan untuk‘survive,’ banyak dari kita sudah terbantai dan susah bangun lagi. Atau mungkin saja sudah mati.
Jurnal ini adalah cara untuk menemukan harapan. Mencoba merangsang reaksi kimi individual untuk bangun dari mimpi dunia lama dan membuka mata terhadap ‘sistem dunia lama’ dengan seperangkat mesin dominasinya yang terus-menerus memporak-porandakan kehidupan kita. Martin Luther King pernah berkata, “Hanya ketika cukup gelaplah maka kita bisa melihat bintang di angkasa,” untuk memberi semangat pada perjuangan hak-hak sipil di tahun 60an. Seperti elegi ini, juga seperti puisi Rexroth, yang juga bukan sekedar kecewa, tapi bertanya, apakah mati lebih baik daripada hidup? Apakah petualangan, cinta, persahabatan, konfrontasi dan hasrat adalah sesuatu yang dapat disubstitusikan dengan kepatuhan? Dengan segala kenyamanan dunia modern dan televisi?
Rexroth mengiba dan bertanya dalam syairnya, betapa banyak yang telah mati. Mati memang bagian dari hidup, tapi seperti yang dikatakan oleh Zarathustra, banyak yang mati terlalu telat dan mati terlalu dini.’ Dimanakah seharusnya kita mati disaat yang tepat, sebuah doktrin yang ganjil untuk mempertimbangkannya. Tapi Zarathustra memiliki jawabannya, dengan mengumandangkan sebuah alasan mati yang baik: ‘to die thus is a best death; but the second best is: to die in battle and to squander a great soul.’ Maksud Zarathustra, mati haruslah alami, sealami ketika organ-organmu sudah tidak bisa bekerja lagi, namun sebelum itu pertarungan masih harus dihadapi, bukannya menyerah tanpa syarat kepada ‘demoralisasi.’
Cheers (editor)
The social revolution is when social human beings, social individuals wake up inside the living, waking nightmare of privatized life. –The Right to Be Greedy (For Ourselves)